Asal Usul Dan Sejarah Lapangan Sempur Bogor

newswartapublik
By newswartapublik Januari 19, 2018 07:27

Asal Usul Dan Sejarah Lapangan Sempur Bogor

Story Highlights

  • Sejarah lapangan Sempur.

Bogor, News Warta Publik - Beberapa sumber ada yang menyatakan kalau nama Sempur asalnya dari sebuah nama sejenis pohon, katanya puluhan tahun yang lalu, di daerah ini banyak ditumbuhi pohon-pohon Sempur.

Yang dinamakan pohon Sempur ini mempunyai buah yang bentuknya mirip dengan buah melon dalam ukuran yang relatif kecil, dan rasa buahnya mirip seperti rasa buah jambu air. Jika Anda penasaran seperti apa bentuk dari pohon Sempur, Anda bisa datang ke Kebun Raya Bogor dan bertanya pada petugas yang sedang berjaga disana tentang pohon Sempur yang masih ada dan tumbuh disana.

Ada juga yang mengatakan, kalau Sempur itu asal mulanya dari kata San Poor (bahasa Belanda) yang artinya adalah sebuah tempat pemandian atau sebuah kolam renang. Sampai sekarang pun juga masih terdapat bekas-bekas adanya kolam renang tersebut, walaupun sekarang fungsinya sudah sangat berubah sekali.

Sebelum tahun 1900-an, Sempur adalah sebuah kawasan yang dinamakan Kedung Halang dan mencakup Sempur Kidul, Sempur Kaler, Kampung Rambutan, Lebak Pilar, Taman Kencana serta beberapa daerah di sekitarnya. Sempur adalah sebuah kawasan pengembangan dari pemukiman Belanda yang pada awalannya terpusat pada Istana Bogor dan selalu meluas ke lokasi-lokasi yang ada disekitarnya.

Pada waktu itu Sempur memang merupakan sebuah tempat kosong. Lapangan yang membentang luas di antara lokasi perbukitan yang mengarah ke Timur menuju Taman Kencana, Kebun Raya di samping Selatan, serta dearah Jalan Soedirman dari arah Barat yang dibelah oleh Sungai Ciliwung. Menuju arah Utara, ada tempat perkebunan serta persawahan yang dikelola pribumi yang beberapa datang dari daerah luar Sempur seperti Bantarjati serta Babakan.

Awal kepemilikan tempat umumnya dari gagasan menjaga serta mengelola, lalu perlahan-lahan mulai diperjualbelikan atau system sewa. Sebagian pemukiman pribumi awal, lalu ada di daerah seputar perbukitan/tebing. Sisi lokasi Lapangan, lalu berdiri bangunan-bangunan yang didirikan oleh pemerintahan Belanda yang sengaja ditujukan untuk beberapa petinggi dari pemerintahan Belanda yang bekerja di Istana serta kantor-kantor di sekelilingnya.

Bahkan disini juga terdapat 6 bangunan yang didesain oleh seorang Arsitek terkenal dari Eropa yang bernama Thomas Kaarsten. Diluar itu, disini juga ada lokasi perumahan yang di kenal dengan nama “Rumah Hitam”. Lokasi ini terbagi dalam rumah-rumah yang pada awalannya dulu diperuntukan untuk tahanan tentara KNIL Belanda.

Rumah-rumah ini terdapat di jejeran ST (SMP 11 saat ini) hingga jembatan. Di kenal rumah hitam lantaran cat rumah itu berwarna hitam, diluar itu mungkin saja lantaran fungsinya juga sebagai rumah tahanan yang kesannya serem, jadi dinamakan rumah hitam. Disini juga berdiri sebuah sekolah yang bernama Ambasche School yang lokasinya ada di Sempur Kidul, namun karena disini akan di bangun sebuah komplek perumahan militer, sekolahan itu harus bergeser ke tempat SMP 11 saat ini serta namanya juga diganti menjadi Sekolah Tehnik atau sekolah pertukangan (diprediksikan 1942 sudah mulai di kenal juga sebagai ST).

Sekolah ini sudah menerima murid umum baik pribumi, etnis Cina, ataupun Indo Belanda. Pada tahun.1930-an, lokasi ini telah mempunyai sebagian sarana seperti terdapatnya air ledeng, gas, serta listrik, bahkan juga alat komunikasi telefon meskipun fasilitas-fasilitas itu awalannya cuma untuk kebutuhan beberapa petinggi Belanda untuk kepentingan tugas-tugas istana.

Sempur sekarang terus semakin berkembang, melewati berbagai masa peralihan dari satu pemerintahan ke pemerintahan lain. Disini berdiri sebuah pabrik roti yang bernama Brokkel milik orang Jerman yang saat ini sedang dibangun sebuah hotel Sempur Kencana. Setelah pemerintahan Jepang sekitar 1940-an kawasan sempur ini terkenal sebagai tempat para wanita penghibur.

Pada waktu itu para tentara KNIL menggunakan para wanita secara paksa untuk ajang pemuasan nafsu mereka. Pada waktu itu disini terdapat banyak gubuk-gubuk yang beratapkan daun aren sebagai tempat tinggal bagi para wanita penghibur yang dipaksa tersebut.

Akhirnya jadilah Sempur seperti sekarang yang termasuk salah satu wisata Bogor, dimana disini sekarang terdapat cukup banyak pemukiman yang berkembang di dalamnya.[ Red ]

 
Reporter by Andy Djava
News Warta Publik

Berbagai sumber

newswartapublik
By newswartapublik Januari 19, 2018 07:27
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*