Milad Ke-10 Batik Bogor Tradisiku

newswartapublik
By newswartapublik Januari 23, 2018 22:27

Milad Ke-10 Batik Bogor Tradisiku

Story Highlights

  • Milad ke -10 Batik Bogor.

Bogor, News Warta Publik-Batik Bogor Tradisiku merupakan pelopor Batik Bogor yang diprakarsai oleh bapak Siswaya. Kecintaannya terhadap batik menginspirasinya untuk memberikan sesuatu kepada Bogor, yakni melalui batik. Selain itu, dengan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Bogor dan melestarikan warisan budaya tak benda milik Indonesia yang diakui UNISCO pada tanggal 2 Oktober 2009.

Tahun 2009 adalah kelahiran resmi batik khas Bogor yang dipelopori oleh rumah Batik Bogor Tradisiku (BBT). Selain menjadi pakaian resmi pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Bogor, kini batik kreasi pria kelahiran Jogja tersebut kian mendunia.

Siswaya (55), nama dibalik terciptanya ciri khas batik asal kota hujan ini, berawal dari kejadian gempa besar di Jogjakarta (27/5/2006) yang turut meluluhlantahkan berbagai industri batik di sana. Siswaya mengevakuasi lima orang pengrajin yang kehilangan mata pencahariannya.

Berkat usaha dan perjuangan beliau batik Bogor ternyata bukan hanya sebagai ciri khas kebanggaan warga kotanya melainkan juga sangat disukai, dibanggakan dan mendapat tanggapan positif dari warga mancanegara

Salah satu motif yang sering diburu wisatawan ialah motif hujan gerimis, yang menggambarkan hujan di Bogor dan bangunan istananya. Hingga kini terdapat total lebih dari 90 motif batik Bogor yang telah diproduksinya. Berbagai motif tersebut bercorak segala sesuatu yang identik dengan Bogor, seperti kijang, kujang, teratai, talas, prasasti batu tulis, hujan, istana Bogor, hingga bunga bangkai.

Dalam miladnya yang ke-10, Galeri Batik Bogor Tradisiku (BBT) yang beralamat di Jalan Jalak No. 2, Tanah Sareal, Kota Bogor mengadakan berbagai kegiatan diantaranya Fashion show koleksi busana Batik Bogor Tradisiku, Pemutaran video perjalanan Batik Bogor Tradisiku, Pembacaan puisi batik Bogor, Penyerahan sertifikat uji kompetensi dari LSP batik, Tarian-tarian sunda dari Komunitas Cinta Berkain (KCB), Launching Motif Batik Cisadane, Tutorial iket/totopong, Dongeng sejarah Bogor dan tatar sunda, dan diakhiri dengan kegiatan diskusi budaya.

Hadir dalam kegiatan tersebut Wali Kota Bogor, Dr. Bima Arya dan istri, Kadisdik Kota Bogor Fahrudin, Ibu Sendi Dede Yusuf, Ibu Dedi Panji, Rahmat selaku sejarawan dan tamu undangan lain dari berbagai komunitas.

Kegiatan yang semula dijadwalkan pembukaannya pukul 09.00, ternyata mengalami kemunduran hingga 30 menit. Namun demikian, kegiatan tersebut berjalan lancar, sangat menarik dan meriah. Diawali dengan sambutan dari Bapak Siswaya selaku tuan rumah dan Wali Kota Bogor Dr. Bima Arya yang membuka acara tersebut. Hal yang paling spektakuler yakni peragaan batik Bogor yang diperagakan oleh orang-orang asing, diantaranya dari Selandia Baru, Belanda, Perancis, India, Afrika, Thailand, Korea, dan Jepang. Mereka ternyata sangat bangga dan terpesona mengenakan batik Bogor ini.

Acara semakin siang semakin menarik. Hal ini terbukti ketika tutorial ikat/totopong banyak diminati peserta. Mareka ingin tahu bagaimana cara mengikat kain di kepala? Ternyata hal ini gampang-gampang susah karena setiap daerah di tatar sunda mempunyai ciri khas yang berbeda cara mengikatnya. Bentuk totopong itu ada yang disebut Parekos Jengkol, Julang Ngapak, Bendo, Porteng, Lohen, Barangbang Semplak, Kuda Ngencar, dan Paros Nangka atau Kebo Modol.

Kegiatan diakhiri dengan diskusi budaya tentang Batik Bogor Tradisiku yang dihadiri Budayawan, seniman, penyair, guru dan pelajar diantaranya Rd. Ace Sumanta, Adenan Taufik, Deddy Roamer PS, Abah Eman Sulaeman, Ibrahim Basalmah, Ukon Orascik, Neneng Hendriyani, Mahruf, dll.

Selaku moderator dan penggagas acara, Ace Sumanta berharap diskusi ini akan menghasilkan gagasan atau usulan tentang aneka motif batik Bogor. Beliau juga mengatakan bahwa batik Bogor harus masuk ke kurikulum kearifan lokal di sekolah-sekolah, bila perlu Galeri Batik Bogor Tradisiku siap menyuplai alat-alat untuk membatik kepada para siswa yang mau belajar membatik dan batik Bogor juga diharapkan tidak hanya milik pengusaha melainkan harus menjadi milik kita semua te

rutama warga Bogor. Sedangkan Siswaya mengharapkan bahwa diskusi ini akan menghasilkan kebijakan wali kota Bogor. Lima hal yang dititipkan oleh beliau yakni batik Bogor ini harus mengandung nilai seni, nilai budaya, nilai sejarah, nilai edukasi, dan nilai ekonomi.

Menurut Adnan Taufik, berbicara batik maka tak lepas dari budaya walaupun di dalamnya ada unsur kepentingan sosial yakni kreativitas seni serta tak lepas juga dari unsur ekonomi atau kebutuhan dapur.

Sedangkan menurut Eman Sulaeman, beliau merasa bangga bahwa Bogor mempunyai batik tersendiri selaku ciri khas kota hujan terutama corak warna-warninya yang sangat mencolok dan berharap para perancang batik tidak melupakan sejarah Bogor itu sendiri yang berasal dari karuhun pajajaran.
Berbeda dengan Deddy Roamer PS yang memberikan masukan dan menggagas batik Bogor harus menghasilkan motif terbaru semisal akan lahir motif Gunung Salak.

Diakhir acara, Ace Sumanta berharap diskusi ini akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi perkembangan batik di Bogor, umumnya di Indonesia. Batik dapat dinikmati oleh semua kalangan. Batik bisa menjadi lahan komersil, bukan hanya sekedar cantingan di kain tetapi bisa melalui tulisan atau aneka asesoris yang bahannya dari batik itu sendiri.[ Red ]

 
Bogor, 22 Januari 2018
Penulis : Ukon Orascik.

newswartapublik
By newswartapublik Januari 23, 2018 22:27
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*