News Warta Publik – Suhu politik di tanah air mulai memanas, bahkan menjelang Pemilihan Presidan pada April mendatang suasana sudah mulai tidak terkontrol. Suhu panas ini memunculkan gerakan-gerakan yang lebih mengarah ke destruktif. Sebagian masyarakat seolah hanya disibukkan dengan urusan politik. Bahkan, tidak sedikit yang menggunakan cara “picik” demi memenangkan pertarungan.

Tidak sedikit orang yang menggebu-gebu ketika memuji paslon idolanya, bahkan tidak sedikit pula yang mencaci dan menghina siapa saja yang tidak searah dengan jalan politiknya. Kadang mereka rela berdebat di media sosial dan membagikan unggahan-unggahan negatif yang menjelekkan paslon lain meski belum tahu kebenarannya.

Hal-hal seperti ini yang seharusnya dipahami oleh para generasi millenials, khususnya bagi mereka yang baru pertama kali menggunakan hak suaranya.

Menurut Rahardian Shandy dalam tulisannya yang dilansir oleh Idnimes.com, ada 5 faktor yang berbahaya dari fanatisme berpolitik.

1. Kita tidak lagi berpikir rasional

Menurut KBBI, fanatisme adalah keyakinan atau kepercayaan yang terlalu kuat terhadap ajaran. Orang tua dahulu sering memberikan petuah agar jangan terlalu berlebihan terhadap suatu paham atau ajaran. Karena, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, termasuk untuk urusan politik. Kenapa? Saat kita sudah fanatik pada seorang politikus atau partai, maka kita sama saja menutup mata, telinga, dan pikiran dari apapun. Artinya, kalau ada kritik atau hal yang negatif tentang sosok atau partai yang kita dukung secara fanatik, maka kita akan menolaknya mentah-mentah tanpa mencari tahu kebenarannya, sekalipun info tersebut sudah benar. Inilah sebabnya mengapa orang yang fanatik tidak bisa berpikir rasional. Pemahaman kita yang mudah dimanipulasi.

2. Kita akan mudah benci dan skeptis pada pihak lain.

Fanatisme yang berlebihan akan membuat kita membenci pihak yang berseberangan dengan kita. Bagi penganut dogma fanatisme politik akan sulit bagi mereka untuk mengakui hal-hal positif dari kubu seberang. Kita pun hanya akan memandang pilihan-pilihan dari kubu seberang secara skeptis dan merasa pilihan kita yang paling baik. Sehingga muncul prinsip, “yang penting bukan kubu sana yang menang”.

3. Kita lupa mengkritik sosok yang kita pilih.

Selain itu, fanatisme politik bisa membuat kita lupa mengkritik sosok atau partai yang sudah kita pilih saat sudah berkuasa. Apa pun kebijakan yang diambil olehnya, sekalipun kebijakan tersebut tidak sesuai dengan janji kampanyenya dulu tidak akan membuat kita resah.

4. Elit politik akan mudah memanfaatkan massa.

Saat fanatisme tidak lagi membuat kita berpikir rasional dan mendorong kita terlalu benci pada pihak lain, Maka jangan heran apabila kita mudah diprovokasi, dimanipulasi, hingga kemudian mudah diorganisir untuk kepentingan elit politik. Fanatisme politik mampu membuat kita menjadi peluru yang dikendalikan oleh elit politik. Kita hanya akan dijadikan mortir untuk melanggengkan kekuasaan atau meruntuhkan kekuasaan yang sudah ada. Padahal, semestinya rakyat berposisi bukan sebagai mortir maupun peluru dalam peta perpolitikan yang berdemokrasi, tapi sebagai penentu arah.

5. Membuat penguasa nyaman di singgasana.

Ini dampak buruk yang bisa saja terjadi atau bahkan, mungkin, sedang terjadi di Indonesia. Fanatisme politik yang kita anut justru bisa dimanfaatkan oleh para politikus nanti saat memimpin. Bagaimana bisa?
Fanatisme politik bisa saja menjadikan kita tameng untuk menangkis segala kritikan. Dia yang sedang memimpin pun akan lebih santai dalam mengambil kebijakan karena dia yakin bahwa kita akan mendukung apa pun keputusannya. Sekalipun tidak ada prestasi yang dilahirkan.

Inilah bahaya fanatisme dalam berpolitik sampai dianut masif masyarakat kita, terutama untuk generasi muda. Karena, sebuah dogma kalau sudah tertancap, maka akan sulit untuk dihilangkan. Kalau sudah begitu bisa-bisa negara kita dipimpin oleh orang-orang yang tidak kredibel, sebab hanya memanfaatkan dogma fanatisme politik. Pastinya akan lebih asyik jika berbicara politik dengan rasional dan sambil menikmati secangkir kopi.

Foto : Koran Jakarta/Ones

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini