Sukabumi, News Warta Publik – Satria Nusantara adalah salah satu ilmu bela diri yang digali dari akar budaya leluhur bangsa Indonesia yang memadukan antara gerak tubuh dan pernafasan serta konsentrasi untuk menghasilkan suatu sistem biolistrik tubuh yang lebih mantap, kuat dan teratur, sehingga dapat membela diri sendiri terhadap berbagai serangan (penyakit) di dalam tubuh, dapat pula dimanfaatkan untuk beladiri terhadap serangan dari luar dan bahkan dapat pula dipergunakan untuk menolong atau mengobati orang yang sakit.

Kata “SATRIA” dalam Satria Nusantara bila diuraikan maka terdiri dari kata Sat=Enam, Tri=Tiga dan A=Ya=Daya=Kekuatan. Dalam perguruan ini diusahakan untuk mengembangkan enam indera manusia dengan tiga kekuatan. Yakni, Kekuatan Fisik, dilatih dengan gerak atau jurus tertentu.

Kekuatan Batin, dilatih dengan pernafasan tertentu. Kekuatan Iman, dilatih dengan dzikir khafi atau hati “Laa illaaha illallah” (bagi muslim). Jadi di sini yang ada hanya jurus, nafas dan dzikir hati Laa Illaaha Illallah, tidak ada yang lain-lain lagi, tidak ada susuk, jimat, puasa mutih, ngebleng, dan sebagainya.

“Satria Nusantara juga tidak mengenal istilah berpantang makanan,” kata Ela Nurlaela salah satu anggota Satria Nusantara disela-sela latihan. Senin, (7/8/2017).

Bahwa sifat ilmu Satria Nusantara adalah beladiri. Baik terhadap yang abstrak, guna-guna, santet, pukulan jarak jauh, dan lain sebagainya, maupun yang konkret. “Dapat digunakan sebagai beladiri untuk sendiri dan menolong orang lain, seperti, mengisi, memagar, dan mengobati,” ujarnya.

Ela menambahkan, untuk tingkat dasar ada 10 jurus, setelah calon anggota berlatih dari kuda-kuda sampai 10 jurus, maka bahan tenaga cadangan dalam tubuh yang berubah menjadi kekuatan atau tenaga dalam yang berbentuk getaran atau frekuensi akan “dibuka” dengan cara tertentu.

“Sehingga dapat memancar keluar membentuk semacam medan magnet yang akan selalu melindungi badan dari serangan orang lain,” jelasnya.

Jadi ilmu Satria Nusantara bersifat defensif atau pertahanan dan ini berarti tidak untuk mengganggu orang lain, untuk jago-jagoan, tetapi jangan coba-coba orang lain mengganggunya. Karena tenaga dalam yang berbentuk getaran tersebut secara spontan atau langsung menangkis dan membalas serangan dan gangguan yang datang.

“Dengan demikian anggota yang telah selesai tingkat Dasar sudah siap mempraktekkannya,” pungkasnya. [ Red ]

 
Reporter by Andy Djava.
News Warta Publik

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini