Cianjur, News Warta Publik -Bagi masyarakat di luar wilayah Cianjur, budaya Kuda Kosong mungkin tidak begitu familiar mendengarnya. Ibarat sayur tanpa garam, sebuah arak-arakan dalam berbagai momentum di Cianjur seakan tidak akan semarak tanpa kehadiran Kuda Kosong.

Kuda Kosong merupakan sebuah tradisi seni dan budaya asli Cianjur. Budaya ini sudah sedemikian melekat bagi masyarakat Cianjur. Tidak hanya kalangan generasi tua, kalangan muda pun tidak asing lagi dengan Kuda Kosong. Wajar, jika tanpa kehadiran Kuda Kosong, sebuah pawai arak-arakan berbagai momentum, diibaratkan sayur tanpa garam, terasa hambar.

Berdasarkan data dari berbagai sumber, konon tradisi budaya Kuda Kosong sudah ada sejak zaman dulu. Kuda Kosong selalu digelar pada setiap upacara kenegaraan Cianjur. Tujuannya, mengenang sejarah perjuangan para Bupati Cianjur tempo dulu. Saat Cianjur dijabat Bupati RA Wiratanu, bupati diwajibkan menyerahkan upeti hasil palawija kepada Sunan Mataram di Jawa Tengah.

Dalem Pamoyanan RAA Wiratanudatar II yang dianggap sakti mandraguna, rutin ditugaskan untuk menyerahkan upeti itu. Jenis upeti adalah sebutir beras, lada, dan sebutir cabai. Sambil menyerahkan tiga butir hasil palawija itu, Kanjeng Dalem Pamoyanan selalu menyatakan, rakyat Cianjur miskin hasil pertaniannya. Biar miskin, rakyat Cianjur punya keberanian besar dalam perjuangan bangsa, sama seperti pedasnya rasa cabai dan lada.

Karena pandai diplomasi, Kanjeng Sunan Mataram memberikan hadiah seekor kuda kepada Dalem Pamoyanan sebagai sarana angkutan pulang dari Mataram ke Cianjur. Penghargaan besar Sunan Mataram terhadap Kanjeng Dalem Pamoyanan membuat kebanggaan tersendiri bagi rakyat Cianjur waktu itu.

Jiwa pemberani rakyat Cianjur seperti yang pernah disampaikan Kangjeng Dalem Pamoyanan kepada Sunan Mataram membuahkan kenyataan.

Sekitar 50 tahun setelah peristiwa itu, ribuan rakyat Cianjur ramai-ramai mengadakan perlawanan perang gerilya terhadap penjajah Belanda. Dengan kepemimpinan Dalem Cianjur Rd Alith Prawatasari, barisan perjuang di setiap desa gencar melawan musuh. Hingga akhirnya pasukan Belanda sempat ‘ngacir’ ke Batavia (sekarang Jakarta).

Cerita itu, hingga saat ini menjadi ikon dalam setiap pawai pagelaran seni budaya termasuk pawai 17 Agustus. Tiga orang yang diceritakan sebagai RAA Wiratanudatar II, masing-masing membawa sebuah kotak berisi upeti hasil bumi berupa beras, lada, dan cabai.

Budaya Kuda Kosong ini sempat vacum beberapa tahun. Penyebabnya, disinyalir ada unsur mistis lantaran sebelum diarak dalam sebuah pagelaran, biasanya terlebih dahulu dilakukan ritual memandikan kuda. Konon, dilaksanakan juga ritual proses pemanggilan atau dalam istilah bahasa Sunda disebut ngemat atau nyambat Eyang Suryakancana yang akan menaiki kuda tersebut.

Akibatnya, pemerintah melarang budaya Kuda Kosong dengan alasan adanya kekhawatiran masyarakat menjadi musryik. Namun kini, tradisi budaya Kuda Kosong muncul kembali.[ Red ]

 

Reporter by Andy Djava
News Warta Publik
Berbaga sumber

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini