Peringati Hari Lahir Raden Dewi Sartika, Majlis Adat Gelar Saresehan

0
53

Sumedang, News Warta Publik – Bertepatan dengan perayaan hari lahir Raden Dewi Sartika, pejuang kebangsaan dari Tanah Pasundan, Majelis Adat Sumedang Larang dan Majelis Adat Gagang Cikundul berinisiatif untuk menggelar sarasehan bertajuk Pemetaan Potensi Keragaman dan Kekayaan Budaya Pasundan dalam Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa.

Penanggung Jawab Penyelenggara dalam acara tersebut, Susane Febriyati Soeriakartalegawa, mengatakan sarasehan ini bertolak dari kegelisahan atas semakin tergerusnya budaya lokal oleh globalisasi kebudayaan moderen yang melemahkan identitas bangsa Indonesia. Kesadaran untuk memetakan ulang kondisi warisan sejarah, peninggalan, tradisi, seni, dan budaya, sangat diperlukan.

“Dengan demikian, teknologi informasi yang semakin meluas tidak serta merta menghancurkan dan memusnahkan nilai-nilai kearifan lokal yang sudah ada sejak zaman dahulu di Tanah Pasundan,” kata Susane. Kamis, (6/12/2018).

Kehilangan tradisi, seni peninggalan dan adat istiadat yang diwariskan oleh leluhur, termasuk di Tanah Pasundan, kata Susane, akan membuat kegamangan bagi generasi muda bangsa. Pada perkembangan peradaban memang pasti akan terjadi adaptasi atau adopsi tradisi lama dengan perkembangan teknologi.

“Namun, sangat disadari bahwa terjadinya penghilangan dan penolakan nilai-nilai luhur yang sudah ada akan menjadi bencana budaya karena identitas suatu bangsa menjadi tidak lagi dikenal dan dihormati,” katanya.

Majelis Adat Gagang Cikundul dan Majelis Adat Sumedang Larang pun merasa perlu untuk mendukung inisiatif pelestarian dan penghormatan tradisi yang ditinjau dari persepektif kaum perempuan di Jawa Barat. Untuk itu, lanjutnya, sangatlah penting untuk mengajak para pemikir, penggerak, dan penggiat seni budaya, untuk bersama-sama dengan kaum perempuan di Jawa Barat yang diwakili Srikandi Pasundan Ngahiji.

Kegiatan ini bertujuan untuk membangun jembatan dialog antar kelompok masyarakat atau komunitas adat yang beragam di Tanah Pasundan dalam menjaga, menghormati, merawat dan mendukung upaya penguatan tradisi yang beragam di Jawa Barat.

Sarasehan ini yang dihadiri oleh berbagai kalangan secara beragam akan menjadi ruang dialog yang konstruktif dalam pengembangan strategi kebudayaan daerah Jawa Barat sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Strategi Kebudayaan Nasional.

“Kami memahami bahwa perbedaan adat, tradisi, keyakinan, kebiasaan, dan peninggalan akan menemukan strategi yang jitu dalam pengembangan ke depan agar tidak terjadi kegamangan. Sarasehan sengaja dirancang dengan prinsip inklusif, menghargai, menghormati dan saling percaya di antara para pemerhati, penggiat dan pemikir budaya Pasundan demi memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa,” tuturnya.

Kegiatan ini didukung oleh Srikandi Pasundan Ngahiji dan Yayasan Catur Pilar Nusantara sebagai pelaksana kegiatan, juga mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jendral Kebudayaan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta Pemerintah Derah Kabupaten Sumedang.

Selain itu, dihadiri oleh perwakilan lintas kementerian, yaitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Kementrian Pertahanan, dan Kementrian Pariwisata.

Sarasehan telah diawali dengan kegiatan pengukuhan Pengurus Srikandi Pasundan Ngahiji di tingkat Provinsi sebagai payung dari berbagai Perkumpulan Srikandi Pasundan Ngahiji yang telah terbentuk di tingkat kabupaten/kota di Jawa Barat.

Pembentukan Perkumpulan Srikandi pasundan Ngahiji di tingkat Provinsi sangat penting untuk membuktikan kepedulian dan perhatian yang besar dari kaum perempuan di Jawa Barat terhadap perkembangan dan pelestarian adat Istiadat Pasundan.

Sarasehan dihadiri oleh tamu undangan dari berbagai kalangan yang ikut aktif untuk memperkaya masukan dan gagasan pengembangan Strategi Kebudayaan Daerah. Pelaksanaan sarasehan ini juga dilaksanakan terkait dengan pelaksanaan Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 yang pada tanggal 5 Desember 2018 dibuka secara resmi di Jakarta.

“Kami berharap bahwa hasil dari sarasehan ini akan dapat dimanfaatkan oleh pihak Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan juga Pemerintah Daerah Sumedang dan Cianjur serta menjadi usulan masukan bagi Kongres Kebudayaan yang akan dilaksanakan di Jakarta,” harapnya.

Untuk diketahui, pokok-pokok bahasan dalam diskusi kelompok di sarasehan ini di antaranya,

Kelompok 1: Adat dan Warisan Sejarah
•Langkah Strategis menjamin pelestarian tradisi dan Adat Pasundan dalam perubahan peradaban milenial
•Penguatan Adat, tradisi dan budaya Pasundan yang relevan dengan pembangunan generasi muda bangsa
•Upaya pemulihan dan penghormatan tradisi , kegiatan seni dan peninggalan leluhur di tanah Pasundan yang nyaris punah.

Kelompok 2: Fungsi Nilai Tradisi dalam Kemanusiaan dan Lingkungan Ketahanan Nasional
•Langkah strategis penguatan Nilai tradisi dalam penghormatan Nilai Kemanusiaan dan Ketahanan nasional
•Peran Nilai tradisi dalam peningkatan saling pengertian dalam keragaman budaya dan faham politik
•Peran-peran Nilai tradisi dalam mitigasi bencana sosial akibat konflik sosial/agama/ etnis
•Nilai Tradisi Pasundan dalam menjaga ketentraman dan perdamaian di masyarakat akar rumput.

Kelompok 3: Desa Adat dan Desa Wisata dalam Pembangunan Bangsa
•Langkah strategis pengembangan Desa Adat dalam upaya menguatkan institusi kewargaan
•Peran-peran Desa Adat sebagai ruang belajar dan pewarisan tradisi lintas generasi
•Pelestarian dan transformasi Desa Adat dalam perubahan teknologi informasi

Kelompok 4: Hukum Adat dan Hukum Nasional
•Langkah Strategis pengakuan hukum adat dalam penyelesaian konflik warga atau keluarga dalam lingkungan komunitas adat
•Macam hukum atau aturan adat Pasundan yang dapat diadopsi dalam penyelesaian konflik pertanahan dan hak atas tanah ulayat
•Landasan Hukum adat Pasundan dalam pemanfaatan budi daya untuk kesejahteraan komunitas atas tanah negara

Kelompok 5: Masyarakat Adat dan Ekonomi Kerakyatan
•Identifikasi potensi ekonomi dalam tradisi dan kesenian Pasudan di berbagai lokasi Desa Adat
•Pengembangan potensi festival dan perayaan tradisional dalam peningkatan wisata Jawa Barat
•Pengembangan dan perluasan jaringan eko wisata tradisional berbasis inisiatif masyarakat Adat
•Identifikasi kegiatan masyarakat adat yang berpotensi dalam kalender kegiatan wisata budaya secara nasional.[ Red ]

 

Susane Febriyati Soeriakartalegawa, SH
Karatuan Majelis Adat Sumedanglarang Karatuan Majelis Adat Gagang Cikundul Ketua Umum Srikandi Pasundan Ngahiji

Reporter by Andy Djava
News Warta Publik

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini