Bogor, News Warta Publik – Nama pengacara senior ini sudah tak asing lagi di kalangan advokat. Ia menduduki posisi penting di organisasi yang menaungi profesi advokat seluruh nusantara. Ya, STS menjabat Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi).

Dalam menjalankan aktivitas, peci hitam selalu bertengger di kepalanya. Bahkan saat bersidang membela masyarakat di pengadilan, peci hitam nyaris tak pernah lepas. Tak heran jika banyak yang memanggilnya ‘Bapak Berpeci Hitam’.

“Mungkin karena kebiasaan ini, sehingga banyak sahabat menyematkan julukan ‘Bapak Berpeci Hitam’. Padahal, peci hitam ini merupakan ekspresi sikap kebangsaan dan sikap perjuangan saya untuk masyarakat,” kata Sugeng, beberapa waktu yang lalu.

Sebagai advokat, alumni Universitas Indonesia (UI) ini telah mengabdikan seluruh hidupnya dengan membela ratusan perkara masyarakat di seluruh Indonesia.

“Ini bermula saat saya masih duduk di bangku SMA. Bagaimana saya harus menyaksikan rumah orang tua saya dan masyarakat pinggiran digusur tanpa bisa melawan,” ujar Sugeng.

Pria kelahiran 23 April 1966 ini tak pernah lupa saat dia dan masyarakat Mangga Dua Selatan, Jakarta menjadi korban penggusuran pemerintah DKI. Setelah digusur, lahan bekas rumah STS dan warga kemudian berubah menjadi kawasan bisnis elite di tengah ibukota.

Saat itu warga hanya bisa menangis melihat rumahnya digusur. Tidak ada yang bisa melawan. Dan tidak ada yang memberi pembelaan. Padahal, dalam peristiwa penggusuran ini, ada begitu banyak ketidakadilan.

Peristiwa itulah yang mendorong Sugeng mengambil sikap dan kemudian memutuskan untuk memilih sekolah hukum di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI).

“Jadi, spirit saya menjadi advokat bukan semata-mata untuk mencari materi. Profesi ini bagi saya adalah melakukan pembelaan kepada rakyat. Dan ternyata benar. Dengan profesi ini, sampai sekarang saya masih terus melakukan pembelaan hukum kepada masyarakat tertindas dimanapun berada,” tegas Sugeng.

Kebiasaan membela rakyat kecil yang sedang terbelit masalah hukum, membuat Sugeng dijuluki ‘Sang Pembela’. Julukan itu pula yang menjadi tagline saat mencalonkan diri sebagai calon Walikota Bogor.

Di pemilihan legislatif (pileg) 2019 ini, Sugeng Teguh Santoso kembali meramaikan bursa calon anggota DPRD kota Bogor untuk daerah pemilihan (dapil) I. Bogor tengah – timur, dengan nomor urut 1.

Sugeng Teguh Santoso, ‘Sang Pembela’ sosok yang sederhana, santun dan berbudaya. Tentunya menjadi harapan masyarakat Bogor.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini